Senin, 30 Maret 2009

IBADAH pOLISI

sumber : Surya 12/03/09

Ibadah Polisi
Kamis, 12 Maret 2009 | 8:07 WIB | Kategori: Warteg

JAJARAN kepolisian Jawa Timur, belakangan ini mencuat di media massa. Pasalnya, lewat Kapoldanya yang baru, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, aspek relijius di lembaganya mendapat perhatian serius. Sejak subuh hari, salat berjemaah kini menjadi menu wajib bagi polisi yang beragama Islam.

Tak luput jua polwan, jika dahulu mereka masih bisa diperhatikan betis kekarnya, kini jangankan betis, untuk sekadar melihat sehelai rambutnya saja sudah sulit. Mereka, lewat kebijakan kapolda baru ini, diimbau berbusana muslimah (berkerudung, atasan dan bawahan panjang). 

Ibadah itu tidak sesempit lubang jarum, walau jarum goni sekalipun. Ia adalah gambaran universalitas penghambaan yang melingkupi segala aspek kehidupan manusia. Tuhan tidak melulu dapat dijumpai di masjid, atau saat-saat mana kita sedang berbusana yang menutup sekujur tubuh. Tapi, Tuhan akan selalu bersanding dengan hambanya selama dalam hati hambanya itu selalu ada Dia.

Kendati demikian, dalam agama ada prinsip-prinsip pokok yang memang harus diwujudkan sebagai pemenuhan status kehambaan yang mutlak. Prinsip-prinsip itu adalah adalah apa yang telah tersebut dalam rukun Islam, sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar menangguhannya. 

Setidaknya prinsip itulah yang selaiknya menjadi standar kemusliman seorang hamba. Sementara relijiusitas dapat dibentuk di luar aspek pokok itu. Masih terlalu banyak aspek eksternal yang dapat diwujudkan di dalamnya upaya relijiusisasi.

Bagi anggota polisi, selain standardisasi itu, yang pokok adalah keberadaannya dalam masyarakat sebagai insan-insan pelaksana keamaanan dan pelayanan masyarakat di bidangnya. Itulah sesungguhnya bentuk ibadah paling besar bagi seorang polisi. 

Kita patut menghadiahkan apresiasi positif yang setinggi-tingginya terhadap semangat relijiusisasi di jajaran kepolisian Jawa Timur. Namun akan lebih bijak jika pemahaman yang dibangun, kita landasakan pada cara berpikir yang realistis, objektif, dan tepat sasaran. Semoga ada pencerahan yang lebih baik, dan semoga kinerja kepolisian semakin maju lewat relijiusisasi itu.

Oleh Erfani el Islamiy
Mahasiswa Pascasarjana Institut Keislaman Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar