Senin, 30 Maret 2009

MENULIS

Mencari Tabib Demokrasi
Oleh ; Erfani el Islamiy

Seharusnya tidak patut lagi kita pertanyakan kesiapan KPU menjelang Pemilu Legislatif 9 April mendatang. Karena siap adalah yang semestinya menjadi jawaban. Namun realita yang terjadi, seolah memaksa kita untuk kembali bertanya akan kesiapan itu. Sejak pemberitaan terkait minimnya sosialisasi pemilu, sampai yang paling hangat saat ini yaitu polemik surat suara, agaknya merupakan sederet alasan yang cukup bagi rakyat untuk berhipotesis bahwa KPU nyatanya memang belum begitu siap. Rakyat yang telah sekian lama tidak diuntungkan dengan lembaga pemilu ini, tak berlebihan jika akhirnya mereka harus meredam sementara kepercayaan mereka terhadap media demokrasi yang satu ini.
Membangun kepercayaan rakyat untuk mengiyakan pemilu untuk kesekian kalinya ini, tentu merupakan tugas berat. Mereka sadar, adanya kerancuan perihal teknis awal penyelenggaraan pemilu itu, adalah representasi kelanjutan teknis itu ketika nantinya suara itu terkumpul. Celah-celah kecurangan kian melebar jika teknis-teknis di lapangan sampai saat ini belum dibenahi. Lantas apa artinya ikhtiar mereka dengan berbodong-bondong menuju bilik suara, jika pada akhirnya hanya akan menjadi penyempurna adegan sandiwara politik semata. Tidak salah jika akhirnya muncul spekulasi negatif terkait prospek kecurangan pada hasil pemilu itu nantinya. 
Sementara yang tidak bisa kita tutupi dari realita nafas demokrasi di negeri ini adalah sederet kasus-kasus yang sejatinya tidak mencerminkan ruh demokrasi yang semestinya, hal mana peran serta rakyat adalah indikatornya. Di tengah kelaparan rakyatnya, sebagian mereka justru bersendawa kekenyangan, ironisnya makanan itu tak seutuhnya halal. Ada sekian nyawa yang tertaruhkan hanya dalam sekali 'legean'. Di tengah kesengsaraan rakyatnya mengetuk pintu demi pintu perusahaan guna menyingahi sebidang pekerjaan dengan ijazah yang bertahun-tahun ia perjuangkan, sebagian mereka justru dengan sangat mudah mendudukkan sanak famili di bangku-bangku terhormat dengan tanpa perlu mengetuk pintu apalagi menyodorkan selembar kertas betuliskan simbol-simbol prestasi terlebih dahulu.
Sekian pemandangan ganjil tetapi berlanjut terus itu, sudah sangat cukup bagi kita untuk bukan lagi berhipotesis melainkan berkesimpulan, bahwa demokrasi negara ini memang sedang sakit. Sakit menahun yang tak kunjung pulih. Munculnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002 lalu harus dipahami sebagai salah satu resep yang diharapkan mampu memulihkan penyakit menahun yang bersarang dalam demokrasi itu. Sasaran empuk resep itu agaknya tertuju kepada para pemilik sementara kursi-kursi terhormat di dewan. Kendati telah berbagai macam cara ditempuh untuk membasmi penyakit itu sampai ke sarang-sarangnya, namun tetap saja gejala itu muncul. Artinya perlu resep lain yang lebih ampuh guna meraih mimpi kesembuhan demokrasi kita.
Obat Demokrasi
Pernahkah kita merenung bagaimana wakil rakyat itu dipilih? Jika Anda menjawab lewat pemilu, maka jawaban Anda perlu dikongkritkan. Yang seharusnya menjadi jawaban anda adalah mereka dipilih lewat sebuah pagelaran akbar, yang disebut pesta demokrasi. Pesta demokrasi, istilah itulah yang populer dipinjam untuk mengundang rakyat agar berbondong-bondong menggunakan hak pilihnya saat pemilu berlangsung. Namun yang terjadi justru efek istilah itu tidak berpihak kepada rakyat, buktinya secara komulatif, persentase angka golput dalam tiap pemilu cukup tinggi, artinya banyak yang sengaja tidak mau menggunakan hak pilihnya kendati kegiatan itu bernama pesta. Efek yang justru muncul adalah terjadi kepada mereka yang terpilih dalam pesta itu, ya orang biasa yang lewat pesta itu mereka menjadi bak orang luar biasa. Karena merasa menang dalam pesta pertarungan akbar menyingkirkan sekian lawan politik, tak ayal jika selanjutnya mereka berfoya-foya mengabiskan masa kemenangan dengan segala macam cara, menghamburkan uang, main perempuan, dll. Semuanya adalah imbas psikologis dari padanan kata 'pesta demokrasi' yang telah telanjur dipakai untuk mengonotasikan pemilihan umum yang ramai.
Melihat fakta tidak sehatnya raga dan jiwa demokrasi di negara ini, maka yang kita butuhkan bukanlah sesuatu yang bebau hura-hura seperti yang terimage dari kata pesta. Melainkan obat, ya, 'obat demokrasi'. Ketika rakyat sadar akan kondisi sakit menahun yang bersarang di demokrasi itu belum kunjung pulih bahkan semakin parah, maka dengan sadar pula mereka bersungguh-sungguh untuk mencari obatnya. Tentu obat yang dimaksud bukanlah berbentuk kapsul atau tablet, melainkan sebuah sistim demokrasi yang betul-betul merupakan representasi demokrasi yang sesungguhnya, hal mana suara rakyat selalu didengar dan diperjuangakan secara seksama dan bijaksana, sehingga peran serta rakyat sebagai content utama negara, dapat benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.
Tabib Demokrasi
Setelah racun demokrasi itu disingkirkan, dari yang awalnya pesta menjadi obat, maka kita masih perlu mencari subyek-subyek handal yang diharapkan mampu menciptakan demokrasi yang sehat. Kehandalan itu dapat dinilai dari integritas dan kredibilitas yang tidak saja memiliki jaminan mutu, tetapi dapat menumbuhkan keyakinan yang kuat dalam hati rakyat, yang pada akhirnya memunculkan inisiatif untuk memasrahkan amanah memikul baban aspirasi itu kepada subyek-subyek yang dimaksud.
Bahasa (kata) yang tepat yang dapat dipinjam untuk menyebut subyek-subyek di atas adalah 'tabib demokrasi', sebagai profesi yang paling kompeten untuk meramu obat demokrasi yang dimaksud. Maka pemilu legislatif mendatang, adalah ajang dan kesempatan berikhtiar bagi rakyat untuk menilai calon-calon tabib yang memiliki integritas dan kredibiltas yang mumpuni sebagaimana disebut sebelumnya. Ketika beberapa calon itu telah resmi dikukuhkan sebagai tabib demokrasi, maka tugas mereka selanjutnya adalah mendiaknosa penyakit yang ada untuk selanjutnya meramu sebentuk resep ampuh guna memulihkan penyakit itu. Dan mereka tidak lagi memiliki peluang dan kewajaran untuk berfoya-foya dan berhura-hura sebagaimana beberapa pendahulu mereka yang terpilih dalam ajang pesta demokrasi. Selama ramuan dan resep obat itu belum mampu menunjukkan hasil, maka tugas mereka belumlah selesai. Kesembuhan bagi penyakit demokrasi ini memang tidak dapat secara instant diperoleh laiknya pasien-pasien Ponari, sang tabib fenomenal itu. Melainkan perlu tahapan-tahapan politis dan ide-ide innovatif yang jitu dan cemerlang, hal itulah yang dimaksud dengan resep ampuh itu. Namun jika ada tabib demokrasi yang sejenis dengan Ponari, kenapa tidak? Toh, itu adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun yang sedemikian ini tidaklah lantas patut menjadi sebuah pengharapan, ia hanya akan ada lewat fadhal (karunia atas inisiatif Tuhan secara prerogatif).
Lantas secara umum, standarisasi apa yang diperlukan untuk menilai kepatutan calon tabib demokrasi yang berprospek mewakili rakyat? Bercermin dari catatan sejarah dunia yang fenomenal, kita diingatkan kepada sosok Muhammad saw, yang diakui sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia. Maka keluhuran kepribadian, agaknya tidak usang dan tidak akan pernah usang untuk kita tempatkan sebagai standarisasi yang dimaksud, agar darinya dapat diterawang keberadaan signal integritas, kredibilitas, juga kapabilitas yang mumpuni. Keluhuran kepribadian akan selalu up date yang tidak patut jika harus mencibir jika mendengarnya.
Belum terlambat kiranya jika mulai saat ini upaya penerawangan itu dilakukan secara seksama dan cermat, dan sebagai usul, agar ikut pula disertakan dalam upaya itu adalah aspek-aspek transedental-religius sebagai patokan nilai ketuhanan yang obsolut kebenarannya (hidayah). Akhirnya bagi rakyat Indonesia, secara santun saya ucapkan selamat berikhtiar di pemilu legislatif 9 April mendatang, semoga hidayah Tuhan sebagai power utama dalam hidup ini, selalu menjadi haluan setiap ikhtiar itu. amiin.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Keislaman Hasyim Asy'ari (IKAHA) Tebuireng Jombang
Ketua Ikatan Santri Khatulistiwa (IKSWA) Kalimantan Barat di Jombang

IDENTITAS DIRI
Nama : E R F A N I
Nama populer : Erfani el Islamiy
Tempat/tgl lahir : Nusapati, 20 Oktober 1985
Domisili : PP. Al Aqobah, Kwaron Diwek Jombang, Jatim 61471
Contact person : 085259603720
No. Rek : BCA. Cab. Jombang : 1130611237 

Riwayat Pendidikan
SD : SDN. NO. 12 Nusapati, Kec. Sui. Pinyuh. Kab. Pontianak Kal-Bar
Menengah Pertama : MTs. (Pondok Pesantren) Darussalam, Sengkubang, Kec. Mempawah Hilir, Kab. Pontianak, Kal-Bar
Menengah Atas : MASS (Pondok Pesantren) Tebuireng, Jombang, Jatim
Sekolah Tinggi : Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy'ari (IKAHA) Tebuireng Jombang, Jatim
Saat ini : Konsentrasi Pemikiran Hukum Islam Program Magister Studi Agama Islam Pascasarjana IKAHA Tebuireng Jombang, Jatim

Pengalaman Menulis
- Buku Kurikulum Bahasa Arab untuk MTs. Penerbit Yudhistira, Bogor ; 2007
- Beberapa Artikel di Koran Surya (Ponari dan Belenggu Wacana, Enjoy Learning, Ibadah Polisi), Koran Equator (Kal-Bar)_(Simbol Agama dan Instrumen Politik), Pontianakpost (Membangkitkan Kreatifitas Desa) dll.
- Paper (Wisata Ziarah Perspektif Islam), Skripsi (Implementasi Jaminan Berlaku Adil dalam Poligami), dan beberapa Artikel Lokal.
- Naskah Film Dokumenter Risalah dari Dato` (Dokumentasi Desa Nusapati, 2009)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar